Ketika Aljazeera Ikut Bertanya: Mengapa Pendidikan Indonesia Terburuk di Dunia?


Srie, - Pendidikan di Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Kali ini, sebuah program “101 East”, milik Aljazeera, telah melakukan investigasi, kemudian mengulasnya dalam judul “Educating Indonesia” untuk mengetahui alasan mengapa pendidikan Indonesia menempati peringkat terburuk di dunia.

101 East investigates why Indonesia’s education system is one of the worst in the world,” demikian bunyi sub judul, dari judul“Educating Indonesia” yang dilansir pada Jum’at, 22 Februari 2013.

Tampaknya, laporan Aljazeera hanya melanjutkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Pearson, sebuah lembaga survei pemeringkat pendidikan dunia. Pada publikasi November 2012 lalu, Pearson menyebutkan peringkat pendidikan Indonesia berada pada urutan terbawah, atau nomor urut 40 dari 40 negara di dunia yang disurvei.

13617638521290215608
Pearson sendiri menggunakan sejumlah data yang telah dirilis oleh lembaga lain, seperti data PISA tahun 2009, data TIMSS 2007 dan data PIRLS tahun 2006. termasuk pula, data tingkat literasi dan kelulusan yang dikeluarkan pada tahun 2010.

Rilis survei Pearson ini telah menjadi sumber berita bagi media kelas dunia, seperti BBC dan Aljazeera sendiri. Hasil survei ini juga telah menjadi bahan kajian bagi para pejabat di kementerian pendidikan  di sejumlah negara-negara di dunia.

Hanya 51 % Guru Kompeten
Dalam ulasan laporannya, Aljazeera menyebutkan, antara lain mengenai masih buruknya tingkat kompetensi guru yang mengajar di sekolah-sekolah di Indonesia. Dikatakannya, bahwa hanya sekitar separuhnya saja, atau 51 persen guru yang mengajar di Indonesia yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk dapat mengajar dengan baik dan profesional.

“Only 51 percent of Indonesian teacher have the right qualifications to teach,” bunyi salah satu kalimat ulasan yang disoroti.

Kritik dari sejumlah pengamat pendidikan pun dimasukkan dalam laporan Aljazeera. Antara lain, disebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih menekankan pada pengetahuan yang harus dihapal, bukan pada pengembangan berpikir kreatif siswa.

Intensitas kehadiran guru juga disorot dalam ulasan, dengan mengatakan bahwa masih banyak guru-guru di Indonesia yang melakukan  pekerjaan lain, di luar mengajar, untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Keadaan ini dinilai sebagai salah satu faktor penyebab kualifikasi minimal guru yang tidak terpenuhi, yang mencakup lebih dari separuh jumlah guru di Indonesia.Tercatat, ada sekitar 20 persen guru yang menunjukkan ketidakhadirannya saat mengajar  di kelas.

Korupsi, Pengamat Heran
Praktek korupsi menjadi bagian lain yang disoroti, di mana sekolah-sekolah dan universitas masih banyak ditemui tindakan suap dan pungutan yang harus ditanggung orang tua untuk memperoleh layanan pendidikan lebih baik yang disediakan oleh negara.
Hasil penelitian ICW, juga dijadikan salah satu rujukan Aljazeera untuk mengungkapkan masih adanya tingkat korupsi yang masih tinggi terjadi di dunia pendidikan. Angka 40 persen anggaran yang dialokasikan oleh negara disebut biasa dikorupsi oleh penyelenggara pendidikan di negeri ini.
Pada bagian lain, terungkap pula keheranan sejumlah pengamat internasional atas Indonesia, di mana kini telah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan penghasilan kelas menengah, atau  pendapatan per kapita mendekati angka US$ 4.000 berdasarkan catatan Bank Dunia.

Pertanyaannya, meski sudah termasuk negara berpendapatan menengah bawah, kenapa Indonesia masih mengandalkan pula pembiayaan pendidikannya dari bantuan internasional, baik melalui Bank Dunia, atau melalui kerja sama antar pemerintah kedua negara.

Kembali ke Zaman Batu?
Rencana pemberlakuan kurikulum baru di Indonesia, pun mendapat sorotan. Disebutkannya, isu kontroversial mengenai penghapusan sejumlah mata pelajaran, seperti Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan, khususnya dalam kurikulum tingkat SD dikhawatirkan oleh banyak pendidik sebagai akan menjadikan Indonesia kembali ke zaman batu.
“Banyak pendidik yang khawatir, bahwa hal ini bisa mendorong Indonesia kembali ke Zaman Batu, di tengah dunia yang cepat mengglobal,” ulasnya.
Pada bagian akhir, Aljazeera menuliskan tanggapan dari pihak pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Mendikbud, Mohammad Nuh, yang sempat diwawancarainya pada awal Februari lalu.
Disebutkannya, bahwa untuk menjawab semua kritikan di atas, pemerintah Indonesia memperkenalkan kurikulum baru dalam upaya untuk menyederhanakan pendidikan,mengurangi angka putus sekolah, dan menghasilkan lebih banyak doktor.
Pemerintah Indonesia membela kurikulum baru dengan mengatakan bahwa pihaknya mencoba untuk menyederhanakan sistem sekolah yang banyak dikritik dengan mata pelajaran yang terlalu banyak, terutama di jenjang SD.

Tanggapan Pemerintah
Khusus mengenai hasil survei Pearson sendiri, Wamendikbud, Musliar Kasim, pernah secara terang-terangan meminta agar tidak mudah percaya. [Baca: Jangan Mudah Percaya Hasil Survei].

Semenatara itu, Mendikbud, Mohammad Nuh, menanggapinya secara lebih positif, dengan mengatakan akan dijadikan sebagai cermin untuk perbaikan mutu pendidikan di Indonesia
“Intinya, saya menyambut baik hasil penelitian itu, sebagai bagian dari cermin untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang ada di Indonesia,” kata Nuh, saat diwawancarai oleh Aljazeera, Jum’at (1/2) lalu, di kantor Kemendikbud.
Selanjutnya, Nuh bersikap optimis, bahwa dalam lima tahun ke depan, Indonesia akan mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia. begitu pula, kata Nuh, nantinya hasil penelitian TIMSS dan PISA, Indonesia akan menunjukkan kenaikan angka yang positif.
Nuh menandaskan, Indonesia bukanlah negara yang terisolasi dalam percaturan global. Indonesia adalah bagian dari kelompok dunia itu. Sehingga, lanjutnya, kompetensi yang dimiliki Indonesia nantinya harus bisa bersaing dengan komptensi yang dimiliki oleh negara-negara lain.

“Di situlah, mengapa ukuran-ukuran yang sering dipakai di negara lain pun, kami pakai untuk mengembangkan kurikulum di Indonesia,” tandas Nuh.
Untuk diketahui, hasil liputan mengenai pendidikan di Indonesia, termasuk wawancara dengan Mendikbud ini, telah ditayangkan secara berulang oleh saluran TV Al-Jazeera pada tanggal 14 Februari 2013 lalu, mulai pukul 05.00 WIB. *** [Srie].
Previous
Next Post »

Show Conversion Code Hide Conversion Code Show Emoticon Hide Emoticon

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Thanks for your comment