Komentar : 0 komentar

Oleh M. Ramdhan Adhi

Dunia mengenal tiga ideologi: Islam, Kapitalisme, dan Sosialisme.
Ketiganya tidak bisa akur karena masing-masing memiliki filosofi dasar
yang sangat berbeda. Karenanya, ketiga ideologi ini akan terus
bersaing; satu sama lain saling menganggap musuh yang harus dikalahkan.

Dulu Islam terlibat perangdengan Romawi dan Persia, dua peradaban
besar dunia. Islam lalu terlibat konflik dengan Kristen-Eropa sampai
kemudian Khilafah Utsmaniyah berhasil dihancurkan melalui drama
konspirasi negara-negara kufur.

Runtuhnya Negara Islam tidak berarti dunia sepi dari konflik ideologis.
Pada 1946-1989, dunia tertata dalam format Blok Barat yang kapitalis
versus Blok Timur yang sosialis. Pada 1990 Uni Soviet bubar dan AS
segera memproklamasi terbentuknya Tata Dunia Baru serta mentahbiskan
dirinya sebagai Globo Cop, Polisi Dunia.

Tak lama setelah proklamasi Tata Dunia Baru, negara-negara Eropa
menggalang kekuatan dalam wujud Uni Eropa untuk menandingi AS. Fenomena
ini mempertajam persaingan sesama negara kapitalis. Persaingan AS-Eropa
kian kentara. Inggris saja, yang seolah-olah teman sejati AS,
sebenarnya juga giat menggerogoti dominasi AS, meskipun dengan
menggunakan tangan orang lain, misalnya Mahathir Muhammad yang getol
menghujat AS. Krisis ekonomi dunia 1997-2001 juga kian melemahkan
posisi AS di dalam dan luar negeri. Di Dunia Islam juga bermunculan
sentimen-sentimen anti-AS yang dibarengi maraknya seruan syariat Islam.
Belum lagi ancaman laten dari Cina, Korea Utara, dan Kuba.

Melihat potensi ancaman itu dan melihat kedudukannya yang mulai goyah,
AS harus melakukan sesuatu yang bisa mengembalikan posisinya sebagai
kekuatan utama dunia. Untuk itu, AS memerlukan sesuatu yang bisa
dimanfaatkan untuk menjalankan manuver politiknya. Sesuatu itu ialah
'Black September'. Jika dikaitkan dengan begitu banyaknya kejanggalan
dalam Peristiwa September Kelabu itu, adalah masuk akal jika ada
pengamat yang berpendapat bahwa 11/9 adalah rekayasa AS sendiri,
meskipun eksekusinya diserahkan kepada pihak lain. Peristiwa itu
menjadi alasan bagi AS untuk melakukan penetrasi dan intervensi ke
negara lain dengan dalih demi melindungi kepentingan nasionalnya.

AS lalu mengeksploitasi peristiwa itu untuk memetakan dunia: bersama
kami atau melawan kami? Peristiwa Black September berhasil menciptakan
teror, yang langsung menyerang rasa aman masyarakat sebagai bagian dari
naluri mempertahankan diri, yang menjadi fitrah manusia. Merasa
terancam oleh teror, masyarakat kemudian mendukung War on Terrorisme
(WOT). Hal sama berlaku bagi Eropa dan Cina, yang turut memberikan
dukungan. Alhasil, Black September berhasil menciptakan opini publik di
Barat: terorisme adalah musuh bersama kita.

Pertanyaannya adalah, apakah terorisme itu dan siapakah teroris itu?
Jawabannya muncul lima hari setelah Black September. Bush keseleo lidah
(?) ketika mengatakan, "This Crusade, this war on terrorism ..."1

Crusade (Perang Salib) adalah salah satu episode sejarah pertentangan
Islam dan Kristen. Kemudian, AS menuding al-Qaeda sebagai dalang Black
September (dan al-Qaeda mengaku bertanggung jawab). Pada 10 Oktober
2001, Bush mengungkapkan daftar 22 teroris paling dicari, semuanya
Muslim. Bush juga mengeluarkan peraturan pemerintah (ini "executive
order" pertama sejak PerangDunia II) yang memungkinkan pengadilan
militer terhadap setiap orang asing yang dicurigai memiliki kaitan
dengan tindakan teroris yang sedang atau akan berlangsung di AS. AS
lalu menginvasi Afganistan dengan dalih menghancurkan sarang dan
pelindung teroris. Di sana AS mendapat bantuan militer dari NATO dan
negara-negara lain. Awal 2003 AS menginvasi dan menduduki Irak.
Dalihnya bahwa Irak punya kaitan dengan al-Qaeda. Karena badan
intelijen AS (NSC, CIA, DIA, FBI, Senate Select Committee on
Intelligence, dan 9/11 Commission) tidak menemukan bukti substansial
keterkaitan Irak dan al-Qaeda, maka AS membual tentang rencana Irak
mengembangkan senjata pemusnah massal, yang lagi-lagi tidak terbukti.

Nuansa konspirasi dalam WOT kian kental ketika AS menggalang dukungan
luas internasional. Kurang dari 24 jam setelah serangan atas WTC, NATO
mengutip Artikel 5 dari North Atlantic Treaty dan menyatakan bahwa
serangan itu berarti serangan terhadap seluruh negara anggota NATO (19
negara). Pada 22 November 2002, negara-negara anggota EAPC merumuskan
Partnership Action Plan against Terrorism yang secara eksplisit
menyatakan, "Negara-negara EAPC berkomitmen melindungi dan mendukung
kebebasan dan hak asasi manusia, serta rule of law, dalam memerangi
terorisme."2

Pemerintahan Bush juga mengeluarkan USA Patriot Act, yang kemudian
disebarkan, difotokopi, dan diterjemahkan ke dalam beragam bahasa untuk
diundangkan di negara-negara lain. Di Indonesia, Patriot Act itu
menjadi UU Anti-Terorisme. UU itu memberikan keleluasaan kepada pihak
berwenang untuk mengambil tindakan terhadap segala sesuatu yang
mengarah pada terorisme. Namun, di manapun UU itu berada, yang
ditangkapi pastilah orang-orang Islam, khususnya para aktivis Muslim;
entah itu di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Australia,
Eropa, bahkan Amerika.

Mengenai terorisme sendiri, Dephan AS mendefinisikannya sebagai:
penggunaan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, yang ditujukan untuk
memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat demi
tujuan-tujuan politik, agama, atau ideologis.3

Kalau begitu, mengapa AS tidak memerangi dan menyerang sarang ETA4 di
Spanyol, FARC5 di Kolombia, IRA6 di Irlandia, atau Israel? Atau serang
saja Inggris yang jelas-jelas toleran dan memelihara IRA.

Pada 6 Oktober 2005, saat memberikan sambutan tentang terorisme di
National Endowment for Democracy, Ronald Reagen Building and
International Trade Center, Bush mengatakan, "Kelompok militan yakin
bahwa dengan menguasai satu negara akan menyatukan masyarakat Muslim
sehingga mereka bisa menggulingkan pemerintahan-pemerintahan moderat
dan mendirikan Imperium Islam radikal yang membentang dari Spanyol
hingga Indonesia."

Jelas sudah siapa yang jadi musuh AS: Islam!
AS tidak berani menyatakan permusuhan secara terang-terangan kepada
Islam dan umat Islam, karena: (1) banyaknya komunitas Muslim yang
tinggal di Barat; (2) ada sekitar 1,2 miliar Muslim yang tersebar di
seluruh dunia. AS membuat kesan bahwa yang menjadi musuh adalah yang
berlabel Islam teroris, fundamentalis, militan, dan radikal sebagai
lawan dari Islam moderat-yang oleh Bush dianggap sebagai Islam "yang
sebenarnya".

Mengapa Islam dan umat Islam yang menjadi target utama WOT? Karena
Islam mampu menghadirkan ancaman nyata bagi AS dan ideologinya. Ancaman
kebangkitan Islam jauh lebih berbahaya ketimbang ancaman Sosialisme.
Zeyno Baran, Direktur International Security and Energi Programs di
Nixon Center, mengatakan, "Hingga beberapa tahun yang lalu, sebagian
besar kelompok Islam menganggap upaya penegakan Khilafah yang baru
adalah tujuan yang utopis. Sekarang, semakin banyak orang yang
menganggap tegaknya kembali Khilafah sebagai tujuan yang serius."

Kembalinya ideologi Islam akan meruntuhkan ideologi Kapitalisme.
Ideologi Islam akan menyatukan dunia Islam di bawah naungan Khilafah
Islam, negara yang berideologi Islam dan bersifat global. Karena itu,
Kapitalisme akan ditinggalkan dan dilupakan. Ini berarti ancaman
terhadap eksistensi AS dan ideologinya.

Dengan demikian, 'perang' yang terjadi sekarang ini adalah 'perang'
tentang bagaimana mengubah pemikirandan sistem nilai di Dunia Islam,
agar umat Islam meninggalkan Islam dan mengambil sekularisme sehingga
tidak akan ada lagi negara Khilafah. Pada saat yang sama, aktivis
gerakan Islam juga berjuang menyadarkan umat untuk menerapkan Islam
serta memperjuangkan kembalinya Khilafah. Inilah inti dari perang
ideologis, persis seperti ketika AS dan Blok Barat-nya memerangi
Komunisme yang diusung Uni Soviet dan Blok Timur-nya.

Sampai kapan perang ini akan berlangsung? Pada 20 September 2001,
Presiden AS George W. Bush berbicara di depan Kongres dan rakyat AS,
"Perang melawan teror ini kita mulai dengan al-Qaeda. Akan tetapi, kita
tidak akan berhenti sampai di situ. Perang ini tidak akan berakhir
sampai setiap kelompok teroris global berhasil kita temukan, kita
hentikan, dan kita kalahkan."7

Condoleezza Rice mengatakan, "Kemenangan itu bukan ketika teroris
dikalahkan dengan kekuatan militer, tetapi ketika ideologi (yang
mengajarkan) kematian dan kebencian itu berhasil dikalahkan."8

Oke, ini memang perang pemikiran. Akan tetapi, menapa AS tetap
melakukan aksi militer? Kita tahu, tujuan kebijakan luar negeri AS
adalah mewujudkan keamanan nasional dan mendukung kemakmuran domestik.
Dalam konteks kebijakan luar negeri, keamanan nasional berarti mencegah
adanya serangan terhadap wilayah AS maupun terhadap kepentingan AS di
negara-negara lain; dengan mendeteksi sumber permusuhan, kemampuan
musuh, dan kesiapan musuh untuk menggunakan kemampuannya tersebut.
Sementara itu, kemakmuran domestik diukur dengan berjalannya
perekonomian, yaitu berjalannya proses produksi dan terbukanya pasar.
Proses produksi hanya berjalan jika ada ketersediaan bahan mentah,
energi, dan tenaga kerja. Dengan demikian, strategi kebijakan luar
negeri AS dirancang guna menghilangkan sumber permusuhan, kemampuan
musuh, dan kesiapan musuh untuk menggunakan kemampuannya tersebut;
sekaligus menjamin ketersediaan bahan mentah, energi, tenaga kerja, dan
terbukanya pasar. Itulah mengapa dalam perang pemikiranini AS keukeuh
menggunakan kekuatan militer dan menempatkan pangkalan militer di
tempat-tempat strategis. Strategi penguasaan wilayah ini berguna untuk
meraih kepentingan ekonomi sekaligus membatasi ruang gerak musuh.

Akan tetapi, strategi 'sekali tepuk menangkap dua lalat' ini sebetulnya
saling berkontradiksi. Kunci memenangi perang pemikiranadalah meraih
simpati dan meraih hati dan pikiran masyarakat. Sebaliknya, aksi
militer pasti menimbulkan antipati dan sentimen negatif, yang
ujung-ujungnya merusak kredibilitas. Namun, itulah harga yang harus
dibayar oleh negara yang ingin memaksakan ideologinya agar diberlakukan
di dunia, padahal ideologinya itu jelas-jelas cacat dan tidak sesuai
dengan fitrah manusia. Wallâhu a'lam. 


Sumber
0 komentar:
Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Arsip Blog

  • Content
  • Comments