Komentar : 0 komentar
A.  Pengertian Anak, Konsep dan Batasan Anak di Bawah Umur
1.   Pengertian Anak
Kelahiran anak (bayi) karena perkawinan sedikit banyaknya menyebabkan hal-hal tertentu dalam pelbagai kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Secara hukum kelahiran tersebut mempunyai/menimbulkan akibat hukum. Dalam lapangan hukum perdata akibat hukum ini berpokok kepada anak dan kewajiban seperti : kekuasaan orang tua, pengakuan sahnya anak dan penyangkalan sahnya anak, perwalian, pendewasaan, dan pengangkatan anak.

Anak dalam masyarakat yang bagaimanapun bentuk dan coraknya, merupakan pembawa bahagia. Tidak heran bila dalam upacara pernikahan pengantar dua insan ke gelanggan rumah tangga di antar petuah serta doa restu, orang tua-tua selalu berpesan, semoga kedua mempelai diberkati keturunan bukan satu, bukan dua, tetapi banyak. Pasal 91 (4) KUHP memberikan penjelasan tentang anak adalah orang yang ada dibawah kekuasaan yang sama dengan kekuasaan orang tuanya.
Dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 Tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Sedangkan dalam Undang-Undang No 4 Tahun 1979 pasal 1 ayat 2 dijelaskan tentang pengertian anak adalah seorang yang belum mencapai usia 21 tahun atau belum pernah kawin. Batasan 21 tahun ini ditetapkan oleh karena berdasarkan pertimbangan kepentingan usaha sosial, tahap kematangan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seorang anak dicapai pada usia 21 tahun.
Sedangkan pengertian anak menurut pasal 45 KUHP adalah orang yang belum cukup umur, dengan belum cukup umur dimaksudkan adalah mereka yang melakukan perbuatan sebelum umur 16  tahun.
Dalam Konvensi Hak Anak menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun, sedangkan dalam KUHP menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 17 tahun.
Dari beberapa pengertian anak di atas dapat di bedakan beberapa pengertian tentang anak, yaitu (1) Anak kandung; (2) Anak terlantar, (3) Anak yang menyandang cacat, (4) Anak yang memiliki keunggulan, dan (5) Anak angkat, serta (6) Anak asuh.
Yang dimaksud dengan anak kandung adalah anak yang dilahirkan dari dalam rahim seorang ibu; sedangkan anak terlantar adalah anak yang tidak terpelihara kebutuhannya  secara wajar, baik fisik, mental, spritual, maupun sosial; anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar; anak yang memiliki keunggulan adalah anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, atau memiliki potensi dan bakat istimewa; anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang  bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan; anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembangnya anak secara wajar.
2.   Konsep dan Batasan anak dibawah umur
Berbicara mengenai konsep dan batasan anak di bawah umur, penulis bertolak pada KUHP dan konvensi Hak-Hak Anak (KHA), dimana dalam KUHP tersebut memberikan batasan anak di bawah umur adalah lima belas tahun, sedangkan dalam KHA memberikan batasan anak di bawah umur adalah delapan belas tahun. secara fakta psikologi anak usia 17 tahun masih labil sehingga batasan umur dalam KHA dirasa lebih tepat.
Sedangkan dalam hukum Islam batasan anak di bawah umur terdapat perbedaan penentuan. Menurut hukum Islam batasan itu tidak berdasarkan hitungan usia, tetapi sejak ada tanda-tanda perubahan badania baik bagi di anak laki-laki, demikian pula  bagi anak perempuan. Sedangkan dalam masyarakat yang sudah mempunyai hukum tertulis, ditetapkan batasan umur  16 tahun atau 18 tahun ataupun usia tertentu yang menurut perhitungan pada usia itulah si anak bukan lagi tergolong anak  di bawah umur, tetapi sudah dewasa.7

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak disebutkan bahwa anak sampai batas usia sebelum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin masih tergolong anak di bawah umur. sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan memberikan batasan usia anak di bawah kekuasaan orang tua atau dibawah perwalian sebelum mencapai 18 tahun masih tergolong anak di bawah umur. dalam Undang-Undang pemilu yang dikatakan anak di bawah umur adalah belum mencapai usia 17 tahun, sedangkan dalam konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak memberikan batasan anak di bawah umur adalah di bawah umur 18 tahun.

B.   Kewajiban dan Tanggung Jawab Anak
Sebelum penulis menjelaskan tentang kewajiban seorang anak terlebih dahulu akan di jelaskan tentang pengertian  kewajiban itu sendiri. Kewajiban adalah segala yang harus kita penuhi sebelum kita menuntut hak. seorang anak selain memiliki kewajiban, juga memiliki tanggung jawab baik itu terhadap dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya. Dalam Undang-Undang perlindungan anak pasal 19 dijelaskan tentang kewajiban seorang anak, yaitu :
(1) Menghormati orang tua, wali, dan guru; (2) Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman; (3) mencintai tanah air, bangsa dan negara; (4) Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; (5) Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.
Sedangkan tanggung jawab seorang anak adalah tanggung jawab terhadap dirinya sendiri seperti memelihara diri dari segala gangguan yang mungkin membahayakan keselamatannya. Tanggung jawab terhadap kedua orang tuanya seperti menghormati dan menghargai kedua orang tuanya, guru, keluarga, masyarakat. Sedangkan tanggung jawab terhadap bangsa, negara dan agamanya adalah menghargai para pahlawan yang telah gugur dalam mempertahankan bangsa dan negara Indonesia, sedangkan tanggung jawab untuk agamanya adalah seorang anak harus betul-betul mempelajari ajaran agama agar supaya mereka dapat memahami dan mengamalkan ajaran agamanya. Tanggung jawab lain seorang anak terhadap agamanya dalam bentuk melakukan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya, berakhlak dan beretika baik

C.  Kategori Kejahatan Asusila terhadap Anak di bawah Umur
Bentuk-bentuk kejahatan dan kekerasan yang dialami oleh anak-anak dilakukan dengan fokus di empat arena dimana anak-anak banyak menghabiskan waktunya yakni di rumah, sekolah, tempat kerja dan tempat umum. Dari hasil penelitian oleh Lembaga Perlindunga Anak (LPA) di kota Makassar menemukan bahwa jenis-jenis kekerasan yang dialami oleh anak-anak dibedakan menjadi tiga, yakni kekerasan mental (mental abuse), kekerasan fisik (physical abuse), dan kekerasan seksual (sexual abuse). Jenis kekerasan fisik atau physical abuse adalah jenis kekerasan yang paling banyak dialami oleh anak-anak, disusul kemudian dengan kekerasan mental dan kekerasan seksual, tetapi yang menjadi pokok pembahasan penulis adalah kekerasan seksual terhadap anak-anak.

Berbagai macam bentuk kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak di bawah umur merupakan sebuah fenomena sosial yang tidak terwujud begitu saja atau berdiri sendiri dalam suatu masyarakat. Fenomena sosial-budaya semacam ini merupakan bentuk kekerasan dan bentuk kejahatan terhadap anak yang muncul dalam suatu masyarakat  tertentu yang memiliki unsur-unsur pendukung bagi keberadaan gejala kekerasan dan kejahatan tersebut.

Bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang terjadi pada anak-anak dan si pelaku banyak tergantung pada kontek atau setting tempat yang memungkinkan  terjadinya tindak kekerasan dan kejahatan terhadap anak-anak di bawah umur.

Tindak kekerasan dan kejahatan yang dimaksud adalah setiap perilaku yang dapat menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh/fisik menjadi tindak nyaman. Perasaan tidak nyaman ini biasanya berupa kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, ketersinggungan, kejengkelan, atau kemarahan. Keadaan fisik tidak nyaman bisa berupa lecet, luka, memar, patah tulang, dan sebagainya.

Jenis-jenis kejahatan/kekerasan yang terjadi pada anak di bawah umur dapat dibedakan kedalam tiga kategori yaitu kekerasan/kejahatan mental (mental abuse), kejahatan atau kekerasan fisik (physical abuse) dan kekerasan atau kejahatan seksual (sexual abuse). Tetapi yang menjadi bahan kajian utama penulis adalah kekerasan seksual (sexual abuse).

Setiap jenis kekerasan terdiri dari berbagai macam bentuk kekerasan dan kejahatan, dan bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang pernah dialami oleh para korban berbeda-bedasa seperti perlakuan tidak senonoh, perayuan, pencolekan, pemaksaan onani, oral seks, anal seks dan pemerkosaan adalah bentuk kekerasan dan kejahatan yang sering dialami oleh anak-anak di bawah umur.

Rumah dan sekolah adalah merupakan tempat bagi anak-anak paling banyak melewati waktunya sehari-hari. Di tempat-tempat inilah anak-anak semestinya tidak memperoleh tindak kekerasan khususnya tindak kekerasan asusilah. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Hal ini tampaknya tidak terlepas dari kenyataan lain bahwa rumah dan sekolah adalah tempat anak-anak memperoleh pendidikan dan dibentuk serta disiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang dapat diterima oleh masyarakatnya, dan di situlah mereka mengalami proses pendisiplinan, yang kadang-kadang berubah menjadi tindak kekerasan yang tidak pada tempatnya.

Dalam soal kekerasan seksual seorang anak seringkali mengalaminya di dalam rumah, sekolah, tempat umum. Di dalam lingkungan keluarga atau rumah seringkali terjadi bentuk kekeran seksual terhadap anak di bawah umur sebab hal ini memungkinkan para pelaku tindak kekerasan terhadap anak merasa lebih leluasa melampiaskan hawa napsunya seperti melakukan  pemerkosaan, pencabulan, dan mencolekan serta pemelukan secara paksa seperti yang banyak diberitakan lewat siaran-siatan TV di Indonesia, seorang ayah melakukan pemerkosaan terhadap anak kandungnya sendiri, seorang kakek memperkosa cucunya, dan bahkan seorang pamam tega melakukan pemerkosaan terhadap keponakannya.
Sedangkan dalam lingkungan selokah bentuk kekerasan yang dialami oleh anak di bawah umur adalah berupa kekerasan mental, kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Kekerasan mental yang dialami oleh seorang anak kebanyakan adalah pemberian hukuman oleh guru akibat melanggar aturan di sekolah. Sedangkan kekerasan fisik sering terjadi akibat dianggap telah melanggar aturan dan tidak bersedia memenuhi perintah. Ada juga kekerasan fisik yang disebabkan oleh tindakan iseng dan juga akibat tindakan kriminalitas.

Di samping itu ada beberapa asumsi penting yang terkandung dalam perspektif semacam ini. Asumsi pertama, adalah bahwa berbagai macam bentuk kekerasan  yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak merupakan sebuah fenomena sosial yang tidak terwujud begitu saja atau berdiri sendiri dalam suatu kekosongan. Sebaliknya, sebagaimana fenomena sosial budaya, berbagai macam bentuk kekerasan terhadap anak muncul dalam suatu konteks sosial-budaya tertentu yang memiliki unsur-unsur pendukung bagi keberadaan gejala kekerasan tersebut. Asumsi kedua, bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi pada anak-anak dan pelakunya sedikit banyak tergantung pada konteks atau setting tempat terhadinya kekerasan itu sendiri. Oleh karena itu, bukan hanya ciri dan sifat pelaku kekerasan yang perlu kita ketahui, tetapi juga tempat terjadinya kekerasan itu sendiri. Tanpa pengetahuan tentang setting ini, penanganan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak-anak tidak akan mencapai hasil yang optimal. Asumsi ketiga, setiap individu pada dasarnya telah pernah menjadi korban dari satu atau lebih bentuk kekerasan, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, makhluk yang selalu berada dalam berbagai interaksi dan relasi dengan individu-individu yang lain, dan dibesarkan dalam suatu kelompok atau golongan sosial tertentu, dengan pola budaya tertentu pula. Dalam proses sosialisasi di tengah-tengah individu lain inilah, manusia bekerjasama, tetapi sekaligus juga bersaing dengan yang lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Persaingan akan menghasilkan pihak yang menang dan kalah, dan di sini bisa terjadi berbagai bentuk tindak kekerasan dari satu individu terhadap individu lain yang lebih lemah. Setiap individu pada  dasarnya telah mengalami situasi semacam ini, sehingga setiap orang pada dasarnya telah pernah menjadi korban tindak kekerasan tertentu
Tindak kekerasan di sini diartikan sebagai setiap perilaku yang dapat menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh (fisik) menjadi tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman ini bisa berupa: kekhawatiran, ketakutan, kesedihan, ketersinggungan, kejengkelan, atau kemarahan, sedangkan keadaan fisik tidak nyaman bisa berupa: lecet, luka, memar, patah tulang, dan sebagainya. Ringkasnya hal-hal yang di anggap secara fisik menyakitkan atau tidak enak.

Berkenaan dengan soal kekerasan/kejahatan, dan sebagaimana yang penulis telah uraikan dalam bab sebelumnya mengenai metode pengumpulan data yang di gunakan yakni metode kualitatif, maka aspek kualitatif dari fenomena ini menjadi lebih penting untuk diketahui dari pada aspek kuantitatifnya, karena kekerasan ini punya akibat terhadap kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Bukanlah satu kasus seorang anak yang diperkosa ayahnya sampai mati sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan tindakan pencegahan agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi pada anak yang lain? Masihkah kita harus menunggu hingga korban seperti itu mencapai sekian persen dari jumlah penduduk? Tentu jawabanya tidak. Menunda langkah pencegahan atas tindakan yang tidak manusiawi hanya karena soal kuantitas merupakan langkah yang sangat berlawanan dengan hakekat kemanusiaan itu sendiri.
0 komentar:
Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Arsip Blog

  • Content
  • Comments